![]() |
| sumber: pexels.com (oleh: Matthias Zomer) |
Apakah yang dapat menahan usia?
Suplemen, obat, ramuan tradisional dengan segala klaim hebatnya tetap tak dapat menghentikan waktu meski hanya 1 detik.
Apakah yang dapat memutar kembali waktu?
Berbagai produk perawatan kulit serta kecanggihan teknologi tetap tak dapat mengembalikan putaran waktu hidup meski hanya seperdetik.
Ada kala aku mengingat masa kecilku, beban pikiranku hanyalah soal bermain.
Keinginanku bisa terkabul hanya dengan meminta, atau merengek bila perlu. Meskipun tidak semua dituruti oleh orang tuaku, karena mereka tidak ingin aku menjadi manja.
Menginjak masa sekolah, dari TK, SD, SMP, SMA, hingga lulus kuliah, beban pikiranku hanyalah soal prestasi. Yang penting lulus dengan nilai yang baik, yang tidak sampai membuat orang tua kecewa. Syukurlah nilai-nilaiku selama studi termasuk cukup baik dan memuaskan.
Dan sekarang, aku sudah bekerja di perusahaan pengolahan makanan. Beban pikiranku sekarang sudah memasuki hal-hal keuangan yang lebih serius. Serius karena usia orang tua sudah senja, sudah waktunya mereka yang beristirahat dan aku yang bekerja keras. Serius karena sekarang sudah semakin paham bahwa kebutuhan pokok dan rumah tangga biayanya tidak kecil. Serius karena sebentar lagi aku akan memiliki keluarga sendiri. Dan semakin serius karena keluarga sendiri berarti rumah sendiri.
![]() |
| sumber: pexels.com (oleh: Binyamin Mellish) |
Dalam satu kesempatan, aku dan pasanganku pernah berdiskusi soal tempat tinggal nanti setelah menikah. Beli rumah atau sewa rumah.
Hmm, tidak menyangka bahwa aku sekarang sudah memasuki tahap dimana memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri adalah suatu kebutuhan yang utama dan aku (kami) bertanggung jawab atas hal tersebut.
Dengan penghasilan kami berdua sendiri yang bisa (atau memang) dikatakan belum cukup untuk membeli rumah sendiri, meskipun dengan ukuran yang minimalis, menyewa rumah merupakan alternatif lain bagi kami yang cukup baik untuk dipertimbangkan.
Sebagai penulis blog ini, pertimbanganku secara pribadi dalam mencari persewaan rumah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan artikel yang pernah aku tulis beberapa waktu lalu tentang sewa apartemen, seperti hal biaya, lokasi, dan keamanan. Namun ada beberapa poin lain tambahan yang menjadi perhatianku jika kami memilih untuk sewa rumah:
- Tetangga
Berbeda dengan tinggal di apartemen yang relatif tidak terlalu "berkewajiban" untuk mengenal penghuni unit sebelah, tinggal di sebuah rumah landed secara tidak langsung mengharuskan kita untuk memiliki interaksi dengan tetangga atau warga sekitar. Mengingat budaya Indonesia yang menjunjung tinggi keramah-tamahan, sekedar menyapa satu sama lain dapat meningkatkan peluang kita sebagai "pengunjung" di area tersebut untuk lebih dihargai. Bagiku pribadi yang introvert mungkin hal ini dapat menjadi tantangan tersendiri.
sumber: pexels.com (oleh: Taryn Elliott) - Kegiatan warga
Entah tinggal di apartemen atau rumah landed, aturan untuk warga yang menempati atau tinggal di area tersebut pasti ada. Hanya saja aturan yang ditetapkan di apartemen jelas berbeda dengan rumah landed, karena tergantung dari sifat atau kebiasaan warga di area tersebut. Ambil contoh, jika sewa rumah di area dekat perkampungan, maka kita harus menerima dan memaklumi bila ada kegiatan warga yang mengharuskan adanya penutupan jalan, seperti acara nikahan, khitanan, atau upacara kematian bagi adat tertentu. Jika tidak nyaman dengan pertimbangan ini, maka lebih baik sewa rumah di kompleks perumahan saja yang relatif memiliki lingkungan yang lebih tenang. - Ruangan yang fungsional
Luas ruangan apartemen umumnya tidak seluas rumah landed, terlepas dari spek yang memang ditawarkan oleh penyedia ya, karena di sini aku membahas mengenai sewa rumah yang sesuai dengan kondisi keuanganku saat ini. Bagiku, apartemen biasanya memiliki space yang kurang luas untuk menjemur dan mencuci pakaian, maupun untuk masak memasak. Maka, minimal spek rumah yang aku butuhkan setidaknya cukup untuk kegiatan-kegiatan tersebut, meskipun tidak harus luas atau besar. Menyelesaikan pekerjaan rumahan tanpa kesulitan yang berarti adalah salah satu hal yang patut disyukuri buatku.
sumber: pexels.com (oleh: Max Vakhtbovych) - Ketersediaan air yang bersih dan memadai
Setiap hari dan setiap saat tentu saja perlu air. Tidak jarang aku mendengar laporan warga di siaran radio yang mengeluh mengenai air PDAM mati. Tentu hal ini menjadi pertimbangan penting nantinya untuk menentukan daerah mana yang tidak rawan terkena mati air. Jangan sampai pertimbangan mengenai ruangan mencuci terpenuhi, tapi tetap tidak bisa mencuci karena tidak ada airnya. Konyol sekali kan?
Tulis di kolom komentar ya!




















